Musim dingin tahun 1995 di provinsi Hamkyeong, Korea Utara umur Kim Hyeok ketika itu masih 13 tahun. Ia dan kakaknya terpaksa masuk panti asuhan karena ayahnya tidak mau melihat keturunannya menjadi pengemis dan pencuri makanan.
Pada tahun itu, banyak sekali anak-anak di Korea Utara yang menjadi Kokjebi (pengemis) karena kurangnya makanan dan bahan makanan.
Kondisi di panti asuhan Kim tinggal sama buruknya saat ia berada di jalanan untuk mengais sisa makanan. Makanan yang tersedia sangat minim, dari 250 anak yang masuk panti asuhan di kota Chunglin pada tahun 1995, telah berkurang menjadi 70 anak pada 1997, di mana 25 lainnya meninggal akibat kekurangan gizi dan penyakit.
Tahun 1998 Kim keluar dari panti asuhan dan mencoba menyebrang ke Tiongkok untuk bekerja. Meski begitu, ia masih sering kali bolak-balik Korut-Tiongkok demimelihat keluarganya, namun pada tahun 1998, ia tertangkap polisi Korut dan dijebloskan ke penjara karena menyebrang ke Tiongkok.
Kim mengalami penyiksaan dan beberapa kali harus pindah dari satu penjara ke penjara lainnya.
Pada tahun 1999, Kim mendapat putusan pengadilan yang menyebutkan bahwa dirinya bersalah karena membawa makanan dan pakaian dari luar tanpa izin dan membawa masuk uang yuan (mata uang Tiongkok) ke Korut.
Kehidupan Kim yang baru segera dimulai. Ia menceritakan bahwa para napi yang hidup di penjara Korut hanya mendapat jatah makan nasi jagung dan sup lobak asin. Rata-rata hampir 90 persen napi mengalami kekurangan gizi, dan 3 bulan pertama ketika masuk penjara akan berakhir dengan kematian
“Para napi hanya menunggu kematian,” ujar Kim Selasa (15/9) saat pembukaan acara pekan Hak Asasi Manusia Korea Utara di Dia Lo Gue, Jakarta.
Ia memaparkan kehidupan penjara di Korut jauh dari Hak manusia sebagai mestinya. Para napi hanya diperbolehkan duduk dengan tangan ke bawah lutut. Jika dilanggar, “kami dipukuli dan akan dihukum lagi di penjara.”
Di dalam penjara , ungkap Kim, para napi diberikan doktrin mengenai perintah Korut mulai pukul 7 pagi. Semua pelajaran harus dihafal dan tiap harinya selalu ada ujian, jika tidak bisa menghafal pelajaran, para napi akan dipukul sebagai hukuman. “Hanya ada dua alternatif hidup di Korea utara, yaitu mati kelaparan atau menjadi napi dengan mencuri makanan,” ucap kim.
Kim menjelaskan, Korut memiliki dua jenis penjara, yakni penjara sipil dan penjara politik. Jika seseorang yang masuk ke penjara politik, ia dan keturunannya tidak akan bisa bebas atau berakhr dengan kematian.
Kim beruntung mendapat remisi pada tahun 2000 dan bebas sebelum hukumannya berakhir.
Saat itu kondisi tubuh Kim hanya seberat 34 kg dan tinggi 148, ia pergi menyeberang ke Tiongkok memalui sungai Tumen tanpa pikir panjang.
Sungai Tumen menjadi jalur utama setiap pengungsi Korut yang ingin melarikan diri dari pemerintahan keluarga Kim sebagai penguasa Korut yang telah berkuasa sampai 3 generasi. Dari sana, pengungsi akan masuk ke hutan-hutan Tiongkok untuk bersembunyi dari polisi Tiongkok. Jika tertangkap, mereka akan dikembalikan lagi ke Korut dan masuk ke dalam penjara.
Saat ini Kim tinggal di Korea Selatan dan mengejar gelar doktor di sebuah universitas. “Saya hidup bebas sekarang tanpa harus mengalami ketakutan, kekerasan dan kelaparan.”
Penyanyi Rap
Lirik-lirik menyindir pemimpin Korut saat ini, Kim Jong Un keluar dari penyanyi rap kelahiran Korut Kang Chun Hyeok. Dalam sebuah lirik, ia menceritakan bagaimana rakyat Korut harus masuk keluar-masuk lumpur untuk mencari makan meski makanan dan bahan makanan sangat sedikit, namun di sisi lain pemimpin negara itu berfoya-foya dengan segelas anggur mahal yang di impor dari barat.
Chun adalah pengungsi lainnya yang turut hadir dalam pekan HAM Korut. Ia menjelaskan bahwa kesengsaraan yang dialaminya waktu itu adalah belenggu dan penderitaan yang dialami masyarakat Korut pada umumnya.
Dalam sebuah lirik berbunyi, “ibu ini menangis karena kehilangan anak dan suaminya, ibu ini menangis dengan hatinya yang terluka, ibu ini menangis oleh karena adanya pahlawan palsu yang menipu kita,” Chun memaparkan pedihnya kedupan rakyat Korut.
Chun juga melukiskan penderitaan rakyat Korut dengan media kanvas. Dalam salah satu karyanya, ia menampilkan seorang anak kecil yang harus menunggu makanan jatuh dari mangkuk seseorang sebelum anak itu berhasil mencurinya.
Ia juga menceritakan ketik ia masih di Korut, dirinya pernah melihat polisi Korut menembak warga di depan rakyat sipil dan dilakukan di jalan umum
Seperti Kim, Chun juga telah merasakan kebebasan dan menjadi penyanyi rap dan seniman dengan latar belakang Korut sebagai ide awal.
Di lengan tangan Chun bagia kiri terukir ,“For freedom 19980309" waktu yang menandakan saat ia beserta ayah, ibu dan adiknya berhasil menyebrang menuju Tiongkok untuk hidup lebih baik hingga berakhir di Korea Selatan.
Mahkamah Keamanan nasional
Menurut Marzuki Darusman, pelapor PBB untuk Korut, negara itu sudah tidak bisa lagi menghindar dari tuduhan atas pelanggaran berat yang selama ini dituduhkan oleh dunia internasional.
Ia menjelaskan bahwa komisi yang dibentuk PBB untuk menangani pelanggaran berat Korut telah berhasil mengumpulkan semua data dan bukti selama 10 tahun untuk di bawah ke dewan keamanan nasional.
“Data dari media, LSM, pengungsi, negara-neagra yang memiliki kedutaan di Pyongyang (ibu kota Korut) dan Citra satelit, jadi mereka tidak bias lagi beralih kepada internasional bahwa mereka tidak melakukan pelanggaran HAM berat,” papar Marzuki kepada SH.
Meski begitu kekuatan nuklir yang dimiliki Korut menjadi ancaman tersendiri bagi dunia, “mereka memang sudah punya bahkan bisa mengirim sampai ke Indonesia,” tambah Marzuki.
Ia berharap, laporan yang akan dibawa ke dewan keamanan internasional pada Desember tahun ini bisa membuat PBB memberikan sanksi lebih kepada Korut meski negara itu sudah mendapat sanksi ekonomi dari dunia internasional, dan bisa membuat perubahan banyak terhadap pelanggaran berat HAM di Korut.
Marzuki mengungkapkan bahwa mudahnya pemimpin Korut menundukkan masyarakatnya dikarenakan sistem negara yang sudah berjalan lebih dari 30 tahun.
“sistem negara itu satu-satunya di dunia, mereka (masykarat Korut) jadi sangat patuh kepada pemimpin mereka,” tutur Marzuki.
Tulisan ini telah diedit, edisi asli pernah dimuat di Sinar Harapan edisi Kamis, 17/9/2015 Hal 8

Tidak ada komentar:
Posting Komentar