Tidak Bisa Tidur

Sejak Hujan mengguyur dari sore hari, suasana kamarku malam itu sangat sejuk. Merubah temperatur kamarku yang pengap menjadi lebih dingin. Aku berpikir akan tidur nyenyak. Kenyataannya tidak seperti yang Aku harapkan.

Detik berganti menit , menit berubah menjadi jam. Mataku tak kunjung mengantuk. Tubuhku masih terasa segar. Padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 00.19. Apa ada yang salah dengan pola tidurku. Aku bergumam.



Teng tong... suara jam antik di lantai 1 terdengar dua kali, membei kabar dengan bunyinya yang lantang. Tidak lama berselang, suara hewan peliharaan abangku Sugar Glider terdengar.  Mereka adalah mamalia sejenis tupai bewarna abu-abu dan memiliki warna putih dibagian bawahnya. Suaranya mereka terdengar seperti anjing kesakitan. Padahal tidak seperti biasanya suara mereka seperti itu.


Aku tidak peduli untuk beberapa saat namun suara itu tidak berhenti. Aku keluar dari dari kamar. Pergi ke kamar mandi. Saat membuka pintu, hawa dingin sangat terasa. Terdengar rintik hujan yang menghantam genteng di teras belakang. Aku melangkah keluar, melihat ke arah kanan.Terlihat sosok putih sedang jongkok menghadap kandang Sugar Bliger. Jemarinya seperti sedang mengajak bermain. Langkahku berhenti. Di saat bersamaan, sosok berpakaian putih itu melihat ke arahku. Wajahnya tidak jelas,  meski sudah disinari cahaya lampu dari teras rumah. Sekilas, ia memiliki rambut panjang dan tebal.

Merasa tertangkap memperhatikan, Aku melanjutkan langkah, bergegas ke kamar mandi. Jantungku sedekit berdegup.  Masih kaget dengan sosok yang tidak kukenal. Aku tahu, seluruh keluargaku sudah pada tidur. 

Aku selesaikan tujuan utama. Setelah rampung, Aku bergegas keluar. Pintu kamar mandi dibuka namun langkahku terhenti. Terhalang oleh sosok wanita berjubah putih. Sorotan matanya tajam.Wajahnya putih pucat. Rambutnya terurai panjang berantakan.

Bola mataku bergerak ke  bawah. Kakinya terlihat melayang. Kembali Aku naikkan bola mata. Bertemu dengan matanya untuk kedua kali.  Tatapan matanya tetap sama, mengandung amarah dan kekosongan. Beberapa detik mata kami saling berbicara.

Tanganku memberi isyarat, menyuruhnya bergeser. Namun Ia tidak bergeming. Nafasku menghela panjang, mengambil langkah menembus tubuhnya.

Tubuhku merinding. Bulu tengkukku berdiri. Hawa menjadi lebih dingin. Hidungku mencium wangi seperti bunga yang tidak pernah kukenal.

Aku berjalan meninggalkannya masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuh di atas kasur. Belum mataku terbejam, wanita itu mengintip dari balik jendela. Tanganku melambai, menyuruh pergi. Ia pun menghilang dari jendela kamar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar