Melawan Fobia Islam di Jepang



Pemenggalan dua warga Jepang oleh Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) secara masal di media sosial dan youtube, menjadi pemicu lahirnya fobia islam di negeri matahari terbit. Banyak buku-buku negatif mengenai islam lahir, masyarakat di sana, khususnya Tokyo mulai merasa takut dengan islam.

Pemerintahan dibawah Perdana Menteri Shinzo Abe mulai merancang undang-undang untuk memperkuat kembali kemliteran mereka, padahal itu telah dilarang dalam konstitusi negara.

Ini disampaikan oleh Emeritus Mitsuo Nakamura, seorang antropolog budaya dari Universitas Chiba, Jepang saat berdialog di Centre for Dialogue and Coorperation among Civilisation (CDCC) di Jakarta, Jumat pekan lalu.

Kedatangan Nakamura menjelaskan bagaimana keadaan Jepang saat ini. “islam itu bahaya, islam itu teroris,” ungkap Nakamura meniru perkataan rekan dan koleganya dari Universitas Tokyo.

Ia mengatakan bahwa Jepang saat ini perlu memahami islam lebih jauh untuk menekan fobia terhadap islam, karena menurutnya itu akan mempengaruhi Jepang dalam melakukan diplomasi.

Nakamura memberi contoh hubungan jepang dengan islam di masa lalu, ketika Jepang menang melawan Rusia tahun 1906, kemenangan tersebut memicu negara ketiga khususnya di kawasan Asia Tenggara untuk merdeka. Di mana Indonesia dan Malaysia yang masuk dalam kawasan Asia Tenggara,  mayoritas masyarakatnya beragama muslim.

Kerjasama ini berlanjut dengan Indonesia saat KH. Abdul Kahar Muzakir selaku Wakil Ketua Chuuo Sangi In yakni semacam DPR ala Jepang berkunjung ke negara sakura. Kunjungan pada tahun 1930 itu membuat Jepang tertarik pada islam dan berkembang pada lahirnya Institut Islam Jepang.

Pada perang dunia ke 2, Jepang menurut Nakamura, kembali bekerja sama dengan Indonesia dalam membentuk Pembela Tanah Air atau PETA . Walaupun PETA bukanlah organisasi islam, namun Nakamura menegaskan bahwa ada kerjasama Jepang dan islam yang tampak dalam bendera PETA dengan matahari terbit dan bulan sabit sebagai simbol di bagian bendera PETA.

Kerjasama antara Jepang dan Indonesia terus berkembang mulai dari Rezim Suharto hingga sekarang. Kerjasama ini terus membaik hingga meluas menjadi kerjasama multidimensional seperti kerjasama pendidikan, budaya, olahraga dan makanan.

Ia menjelaskan bahwa untuk melawan fobia islam, harus diajarkan dengan memberikan pengetahuan mengenai islam. Nakamura mempelajari islam saat mengambil disertasi mengenai gerakan Muhammdiyah di kotagede, Yogyakarta.

Penelitiannya mengenai salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia tersebut, merupakan salah satu karya ilmiah barat pertama yang menyaksikan dan memprediksi gelombang islamisasi di Indonesia.

Berkat penelitiannya, ia mendapat gelar Ph, D dalam bidang antropologi budaya dari Universitas Cornell, AS.

Walaupun Jepang sedang dilanda phobia islam, namun tidak semua wilayah negara itu mengalami ketakutan.

Kyoto salah satunya wilayah di Jepang yang tidak mengalami fobia . Menurut Jun Honna dari Universitas Kyoto yang turut hadir dalam dialog tersebut,  menjelaskan, masyarakat di sana tidak mengalami phobia namun tidak ada pengetahuan mengenai islam.

“Sudah ada kantin halal,”ujarnya. Ia menceritakan bagaimana masyarakat Kyoto mempertanyakan mengapa wanita muslim mengenakan hijab, “apakah kepala meraka sakit,” terang Honna menjelaskan keadaan di Kyoto.

Meminalisir phobia islam di Jepang, diperlukan dalam pertukaran infromasi atau individu untuk mengenal lebih jauh.  Saat ini ada ssekitar 6-70 masjid di Jepang.
Din Syamsudin, ketuan CDCC, mengatakan, ini (phobia islam) adalah musuh bersama, “melawan radikalisme agama, ekstrimis yang mengatasnamakan agama dengan menggunakan kekerasan harus dibangun di tingkat nasional dan global,” paparnya.

Pernah dicetak di Sinar Harapan, Jumat, 21/8/2015, hal 8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar