2.02


Mataku kembali tidak mau tertutup untuk tertidur. Masih segar rasanya bola mataku ini. Aku memilih keluar kamar dan membakar rokok kretek. 

Angka 2.02 terlihat di pojok kanan telepon selularku. Ting…ting.. 

Bunyi kentungan tiang listrik terdengar nyaring. Itu pertanda, penjaga malam di daerah rumahku sedang berpatroli. Entah mengapa, Aku kembali teringat dengan ilmu, satu hal yang dibahas oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin yang berarti mengidupkan kembali ilmu-ilmu agama.

Ilmu adalah pegangan dalam menjalani hidup, begitulah Aku memahami salah satu isi kitab Al Ghazali. Kitab ini merupakan terjemahan dari kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam besar Al Ghazali. 

Aku menemukan kitab ini secara tidak sengaja. Awalnya, Aku yang bosan dengan acara televisi mulai resah. Entah kenapa, pikiranku saat itu ingin sekali mengecek kembali deretan buku yang terpajang dalam sisi lemari televisi itu. 

Sudah berulang kali Aku melihat buku-buku yang berderet di dalam sana. Namun, waktu itu, sebelum Aku menemukan kitab Ihya Ulumuddin, Aku hanya berfokus pada buku-buku novel atau buku mengenai motivasi. 

Namun malam itu,  Aku penasaran. Aku lihat judul yang terdapat dalam sampul buku bewarna coklat dan terlihat sudah termakan waktu. Ternyata buku itu adalah karangan imam besar umat muslim. 

Selain kitab Ihya Al Ghazali, dalam deretan buku itu terdapat buku tafsir Al Azhar karangan Buya Hamka. Buku itu adalah mahakarya Buya Hamka sebagai salah satu ulama besar yang dimiliki oleh Indonesia. 

Jujur, Aku memang jarang melalukan ibadah shalat, namun Aku selalu ingin tahu dan belajar mengenai agama-ku.

Dalam bab pertama di kitab Ihya Al Ghazali, ia menempatkan ilmu sebagai pembahasan pertama. Ilmu merupakan salah satu jalan menuju surga. 

Bahkan dalam surat Al-Mujadalah, ayat 11, mengatakan "Diangkat oleh Allah orang-orang yang beriman daripada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa tingkat. Aku paham bahwa Allah, tuhan yang esa sangat suka dengan orang yang memiliki limu. 

Aku memang telah menyadari sebelum membaca kitab ini bahwa ilmu sangat penting dalam kehidupan, karena itu Aku selalu menuntut ilmu walau bukan dalam bidang akademis.

Selain mengutip ayat Al Quran, Imam Al Ghazali juga mengutip perkataan dari Nabi Muhammad SAW, banyak hadist dari Nabi Muhammad SAW yang dihadirkan demi memperkuat betapa pentingnya ilmu itu. Salah satunya adalah, "Manusia yang terbaik ialah mukmin yang berilmu, jika diperlukan dia berguna. Dan jika tidak diperlukan, maka dia dapat mengurus dirinya sendiri".

Aku masih ingat ketika ngaji dulu, bahwa Iqro yang berarti bacalah merupakan ayat yang pertama di turunkan Allah. Dari situ Aku tahu bahwa Tuhanku, Allah yang maha pengasih menyuruh manusia untuk membaca agar mendapat ilmu. Dari ilmu itulah, ajaran-ajaran yang baik dan buruk, halal dan haram akan diketahui oleh umat manusia.

Aku jadi semakin yakin pada ilmu dengan adanya pembelajaran yang kudapat dari kitab Ihya Al Ghazali. 

Ilmu tak pernah mati, ilmu membawa manusia menjadi lebih dekat dengan tuhannya dan membuat manusia lekat dengan rendah hati dan kebajikan. Tetapi berhati-hati juga terhadap ilmu, karena ilmu bisa membuat kesombongan dan jauh dari agama. Kalau kata orang-orang, bijaklah dalam menentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar