Waktu itu, saat hujan sedang turun, Aku memilih duduk di teras lantai dua rumahku berdekatan dengan jemuran. Berharap, dengan posisiku saat itu, ide yang Aku butuhkan akan segera muncul. Maklum lah, dalam beberapa bulan ini Aku sedang keranjingan menulis di blog. Sebenarnya Aku sudah lama memiliki blog, namun, karena rasa malas selalu menang terhadap keinginanku untuk menulis, membuat blogku menjadi terlantar. Tapi tidak dengan sekarang. Semangatku untuk menulis sedang bergairah.
Tidak mudah loh mengalahkan rasa malas. Apalagi jika kita sudah terbiasa dengan apa yang kita lakukan, pasti untuk memulai hal yang baru jadi sangat sulit. Namun semua berubah saat pertemuanku dengan seorang blogger. Waktu itu Ia bercerita, berkat tulisan-tulisannya di blog, ia berhasil menelurkan beberapa buku. Aku ingin sekali membuat buku. Itu merupakan salah satu mimpiku. Bayangkan saja, pada halaman belakang akan terpampang foto wajahku sambil tersenyum. Pasti keren rasanya. Ya setidaknya itu yang ada dipikiranku saat ini.
Biasanya, Aku menulis tentang perjalananku ke berbagai tempat. Bisa berupa budaya, makanan, kesenian, tempat wisata atau apa saja yang menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Bagiku, sayang saja jika pengalaman ketika jalan-jalan tidak dibagi ke orang lain. Ya siapa tahu dengan mereka (pengunjung blogku) melihat tulisan dan foto-foto yang terpajang di dalam blogku, ada keinginan mereka untuk jalan-jalan. Hidupkan butuh warna, tidak semestinya kita berdiam diri di satu tempat. Kalau kata orang bijak "hidup cuma satu kali, jadi gunakanlah dengan bijak." Aku sangat setuju dengan pernyataan itu, toh di luar sana banyak pelajaran yang bisa diambil.
Tulisan di dalam blogku tidak hanya berupa jurnal perjalananku saja. Ada beberapa tulisan yang Aku buat sesuai dengan imajinasiku. Makanya Aku memiliki dua blog sekaligus. Ini untuk memudahkanku memilah cerita yang sesuai dengan tulisanku. Contohnya seperti cerita pendek, opini, khayalan dan cerita-cerita fiksi, akan Aku tempatkan di dalam blogku yang satu ini. Sedangkan blog yang satu lagi akan secara khusus bercerita mengenai perjalananku.
Aku sering menggunakan laptop untuk media menulis. Meski itu kepunyaan abangku dan harus selalu di charge agar tetap hidup, laptop itu sangat membantu dalam menuangkan ide-ide tulisanku. Lagipula, abangku jarang sekali menggunakan laptop miliknya. Alhasil, hampir setiap hari aku berkutat dengan tombol-tombol huruf yang ada pada laptopnya.
Tidak hanya di laptop, Aku juga menulis menggunakan buku catatan milikku. Alasannya sederhana, laptop itu berat dan tidak semua tempat bisa digunakan untuk menulis menggunakan laptop. Biasanya tempat seperti cafe atau coffe shop yang dipakai untuk menulis menggunakan laptop. Di situlah kekurangan menulis menggunakan laptop. Beda dengan menulis menggunakan buku. Meski dianggap kuno dan tradisional, menulis menggunakan buku bisa lebih efektif menghasilkan ide-ide yang terputus saat penulisan. Apalagi sifat menulis dengan buku catatan bisa dilakukan di mana saja. Seperti yang Aku lakukan ketika berada di taman-taman kota atau sedang menunggu. Plot atau garis besar penulisan, bisa Aku tuangkan dalam secarik kertas. Tinggal nanti disalin saja di laptop. Walaupun begitu, menulis menggunakan buku juga punya kekurangan. Misalnya, ketika kertas di dalam buku ternyata sudah penuh dengan tulisan atau bisa juga tinta di dalam pulpen habis. Semua itu pernah Aku alami. Menjengkalkan memang, tapi Aku tak habis pikir. Teknologi membuat semuanya menjadi mudah. Aku bisa menggunakan ponsel selularku untuk menulis. Namun ponselku yang sekarang layarnya tidak terlalu besar. Ukurannya hanya 4 inci. Belum lagi papan ketik yang terlalu kecil, sering kali membuat kata-kata yang ingin Aku tulis menjadi salah. Typo nama istilahnya.
Hujan yang turun semakin kecil, Kepala-ku terangkat dan memandang jauh. "Ide berasal dari yang terdekat," batiknku bicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar