Hari sudah gelap kala itu. Adzan isya baru saja selesai
terdengar berkumandang. Dari kejauhan, suara air mancur diselingi biola
mendayu-dayu berbaur membentuk harmoni. Jika siang, tempat ini menjadi kesukaan bagi burung merpati. Mereka
tidak perlu repot mencari makan. Pengunjung yang datang kerap kali
berbagi makanan dengan mereka. Namun, malam itu, mereka sudah terlelap
di dalam kandang di salah satu sisi taman dekat lapangan ditopang dengan
besi.
Duduk sini aja," pinta Rini istriku sambil berjalan ke
salah satu bangku di Taman Suropati. Dari tempat kami duduk, patung
pPangeran Dipananegara menunggangi kuda tampak di sebelah kiri. Di bawah
patung itu terdapat air mancur yang disinari cahaya lampu dari bawah.
Sementara itu, beberapa sepeda hilir mudik di depanku
secara bergantian. Pada bagian kemudinya, berbagai macam jenis bungkusan
minuman cepat saji menggantung menjulur ke bawah. Aku pun tertarik dan
menghentikan salah satu diantara mereka.
"kamu mau apa?" Tanyaku pada rini"
"aku nutrisari aja" jawabnya cepat" "kalau Saya kopi item aja bang," penjual itu mengangguk tanda mengerti.
"ini bang" penjual itu memberi pesanan kami. Sebagai gantinya, aku beri ia uang delapan ribu.
"itu namanya starbuck mobile" ucapku kepada Rini memberi tahu tentang penjual minuman tadi. Ia tertawa
"Kebanyakan orang Madura yang berjualan di sini. Sama kayak di monas" lanjutku sambil menyeruput kopi.
"lah emang, semua taman di sini yang jualan kopi-kopi kayak gitu, orang Madura" Rini tidak mau kalah memberi informasi.
"orang Madura mah kalau pake emas, sukanya yang rame.
Sekalian pamer. makanya orang madura, kalau pake emas di gigi nyengir
mulu." canda Rini merubah topik obrolan sambil tertawa.
Saat tertawa, kawat bewarna hijau sesuai warna kesukaannya menempel digiginya.
"kawat gigi kamu tuh pakein emas biar kinclong" aku mengomentari kawat giginya sambil bercanda.
Ucapan tadi membuat cubitan mendarat diperutku. "yee sakit
rin" ucapku memohon. Rini menghentikan cubitannya. Kuberi ia kecupan di
pipi dan membuat senyum merekah di bibirnya.
"Nanti", Rini berangan-angan "kalau jadi orang kaya beli mobil BMW ya?"
Mataku menyipit. "gak ah males, Jakarta mecet. Nanti kalo
Aku kesel, mobilnya bisa-bisa aku tinggal di jalan" imbuhku membayangkan
jalanan jakarta.
"ya buat aku aja mobilnya" harap Rini
"oh ya udah gak apa-apa, mobilnya juga bisa dipake jalan-jalan kalo hari minggu"
Rini senyum mendengar penjelasanku. Lagi pula, mobil juga
penting untuk perjalanan jauh. Apalagi Aku suka jalan-jalan. Pasti
menyenangkan rasanya bepergian ke luar kota dengan mobil. Aku pernah
merasakannya bersama Norman, teman kuliahku dulu. Kami melintasi
Jakarta-Malang dengan rute Pantai utara jawa ketika pergi dan pulang
menggunakan jalur pantai selatan. Sangat menyenangkan mengingat momen
itu.
Suara musik dangdut memecah obrolan kami. Semakin lama,
suara itu semakin jelas terdengar berbarengan dengan seorang waria
berdiri tepat di depan kami. Ia mengenakan dres sepaha bewarna perak dan
memapah kotak pengeras suara bewarna hitam yang menggantung di bahu
kirinya.
"aku mah apa atuh, cuma selingkuhan kamu..." suara waria
itu sember seperti bunyi yang keluar dari kotak pengeras suara miliknya.
Ia meliuk-liuk. Pinggulnya digoyang ke kanan dan kiri. Bahunya
digerakkan agar tampil seksi. Seakan ia adalah biduan panggung. Aku dan
rini saling bertatapan lalu tersenyum. Tidak percaya apa yang kami lihat
saat itu.
"ihh cantik banget sih kamu" puja Rini ke Waria itu.
Waria itu tersipu malu. Wajahnya agak dipendam sedikit ke bawah "ah bunda bisa aja" katanya sambil melempar lemas tangannya.
Aku melihat waria dihadapanku sebagai hiburan kami malam
itu. Rini juga sependapat. Meski suaranya amburadul tidak karuan, Aku
biarkan dia menghibur kami untuk beberapa menit. Lagipula, akibat
goyangannya, bibir kami tidak bisa berhenti selalu tersenyum. Bahkan
Rini sampai tertawa terpingkal-pingkal.
"ayok Rin jalan, udah mau jam 9" ajakku meninggalkan Taman Suropati.
"mau kemana?
"Ke HI, aku udah janjian sama orang"
"Bentar" Rini memberi uang lima ribu kepada waria penghibur kami. Lalu kami pergi meninggalkannya.
"makasih bunda, hati-hati ya. abang!" panggil waria itu
kepadaku. Ia memberi ucapan selamat tinggal dengan kecupan tangan jarak
jauh. Aku yang melihat itu, menangkap kecupan lalu menginjak-injaknya.
Wajah waria itu cemberut. Aku dan Rini cekikikan.
****
Di pelataran parkir motor hotel berlogo kipas, Dony berdiri
di sebelah pos tempatnya bekerja. Ia tampak gagah dengan seragam safari
bewarna biru tua. Rambutnya rapih seperti baru dipangkas. Mulutnya
menyembul mengeluarkan asap putih.
"oi don!" sapaku padanya
Ia menoleh cepat, "eh elo Jul, gue pikir siapa? Halo Bu
Rini" ucapnya. Rini tersenyum mendapat teguran dari Dony teman smp-ku
dulu.
"kerenan lo pake seragam"
Dony melihat dirinya sendiri dari atas sampe bawah "ya gini lah, babu seragam" katanya sambil terkekeh.
"bisa gak?" Tanyaku padanya.
"bentar, baru juga nyampe, ngerokok dulu lah.." tawar dony memberi bungkusan rokok.
Kepalaku menggeleng tanda menolak "gak lah cape ngerokok mulu"
Dony membuang rokok lalu menginjaknya "yok ke dalem" ajaknya.
Wajah Rini bergerak ke arahku sambil berbisik "mau ngapain?"
"udah santai aja," sambilku gandeng tangannya.
Wajah Rini tampak kebingungan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Matanya memutar penuh tanda tanya.
****
"klik.." pintu tebal itu dibuka oleh Dony. Saat terbuka
lebar, angin berhembus menyapa wajahku dengan cepat. Aku dan Rini
melangkah mengikuti Dony keluar. Baru beberapa langkah, sinar-sinar
berpendar dari kejauhan. Seakan mereka mengedip dengan rentang waktu
yang cepat. Aku menghirup nafas panjang. Di sebelahku, Rini terkesima
dengan lampu yang berpijar dari bawah.
Malam itu cuaca sangat cerah. Taburan bintang yang berpijar
menambah warna kami saat di atap gedung berlantai 26 itu. Aku begitu
senang, sampai-sampai, alam bawah sadarku membuat senyum tipis
diwajahku. Begitu juga dengan Rini, wajahnya bersinar layaknya bintang
yang menggantung di malam itu.
"Jul, gue tinggal dulu, kalo mau turun, kabarin aja" kata Dony.
"sip" balasku tanpa menoleh ke arahnya.
Perasaan bebas mengarungi tubuhku saat itu. Benar kata
orang-orang, pemandangan dari atas selalu yang terbaik. Tidak hanya di
gunung. Di sini, di tempatku berpijak ketika itu, Jakarta terlihat
mengagumkan. Pucuk monas berlapis emas, gedung tinggi mengangkasa,
patung selamat datang seakan benar-benar memberi kesan 'selamat datang
di Jakarta' kepadaku.
Rini mendekat ke sampingku. Kepalanya dibiarkan bersandar
pada bahuku yang keras. Ku kecup keningnya. Ia tahu bahwa Aku begitu
menyanginya. Mata kami menuju arah yang sama. Jauh memandang Jakarta,
kota kelahiranku. Perasaan kami begitu tenang, hanya terisi kegembiraan
dan kesenangan.
Perlahan Aku maju ke tepian. Meninggalalkan Rini dibelakang. Dari situ jangtungku berdegup agak cepat, membayangkan jika terjatuh. "hati-hati ky" Rini memperingtkan.
"iya" balasku tanpa mengikuti perkataannya.
Setelah cukup puas di tepian, langkahku balik ke semula.
Duduk di sebelah Rini. Mengelus kakinya agar dia mengikutiku. Ia pun tak
keberatan.
Saat duduk, obrolan mengalir. Kami berbagi mimpi. Bercerita
tentang masa depan. Mengeluh terhadap masalah. Saling melempar canda,
kadang hanya diam menikmati momen saat itu.
"Rin" kataku bernada pelan.
"apa" wajahnya terus menghadap ke depan.
"Aku ingin menguji tuhan"
"lah kenapa,? kamu kan tau dia ada" tanyanya, raut wajahnya datar. Tidak terusik dengan pertanyaanku.
"iya Aku tahu, cuma tetep, Aku mau mengujinya"
Wajah Rini berpaling ke arahku. "kenapa?" tanyanya singkat.
Aku menaikkan bahu "enggak tahu, Tiba-tiba aja kepikiran.
Kayaknya udah lama Aku gak berkomunikasi sama dia" kepalaku mendongak ke
atas, menerawang ke lapisan langit terjauh.
Kami terdiam untuk sesaat "lalu" Rini memecah keheningan "gimana cara kamu mau menguji Allah?"
Aku berdiri begitu juga dengan Rini. "ke sana" tanganku menunjuk tepian.
"kamu yakin" tanya Rini
"iya yakin, yakin banget. Kamu ikut sama Aku apa enggak?"
"ya ikut lah, kamu kan pemimpin Aku, imam Aku. Aku percaya sama kamu"
Jawaban Rini membekas dihatiku. Membuatku tersenyum bangga.
Kami berjalan melawan angin menuju tepi gedung. Saat berada ditepian, wajah kami saling berpandangan.
"Kamu janji gak akan lepas tangan Aku" pinta Rini
"Aku janji" jawabku tegas. Kuraih tangannya dan ku pegang erat-erat.
"kamu siap" tanyaku. Rini mengangguk.
Pandangan kami kembali ke depan. "satu, dua, tiga" lalu kami lompat menjatuhkan diri.
Tubuh kami turun dengan cepat, melawan gravitasi. Angin
mengalir deras melewati tubuh kami. Cahaya di kejauhan terlihat begitu
cepat. Aku melihat ke arah Rini. Wajahnya tenang. Matanya terpejam.
Bibirnya tertutup seakan tersenyum. Ia terlihat begitu damai. Begitu
juga denganku. Tak ada ketakutan yang mendera diriku. Aku pasrahkan
dengan pilihanku saat itu. Biar malam membawa kami ke kehidupan
selanjutnya. Mataku menutup perlahan.
****
Mataku terbuka cepat. Jantungku berdegup dengan kencang.
Keringat keluar dari pori-pori membasahi kulit kepalaku. Tatapan mataku
kosong. Aku tidak bisa berpikir. Aku tidak tahu ini di mana.
"Tek...tek...tek..." suara itu terdengar pelan. Pikiranku
mencoba menganalisa. Sepertinya itu bunyi putaran jarum jam. Namun,
otakku belum sepenuhnya bekerja. Aku masih kebingungan. Pikiranku masih
bertanya-tanya.
Perlahan-lahan mataku melihat sekitar. Tembok putih yang
pertama kusadarai. Tubuhku terasa dingin, seakan ada tiupan angin yang
menerpanya. Aku mencoba bangkit dan duduk. Dari arah kanan, Rini
terlihat sedang tidur terlelap di atas tempat tidur di kamarku yang
panas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar