Aku duduk sebentar setelah mendapatkan tidur yang nyenyak
semalam. Aku melakukannya karena teringat artikel yang pernah kulihat
disebuah sosial media. Artikel itu menyebutkan bahwa jika bangun tidur
ada baiknya duduk terlebih dahulu selama 30 detik. Hal itu membantu otak
untuk bekerja kembali setelah beristirahat.
Saat otakku sudah terasa normal, aku bergegas turun ke
bawah untuk mengisi tenggorokanku yang kering. Aku sudah lama melakukan
ini, mungkin sejak duduk di sekolah dasar.
Namun ada yang beda dengan kebiasaan bangun tidurku saat
ini, jika sebelumnya aku selalu mengisi tenggorokan dengan teh namun
kali ini kuganti dengan air putih yang dingin. Aku melakukannya karena
dokter menyarankan kepadaku. Ia mengatakan bahwa meminum air putih lebih
baik dari pada meminum teh saat bangun tidur. Walaupun keduanya bisa
menggaantikan cairan yang hilang saat tidur namun kandungan asam di
dalam teh dapat membuat saluran pencernaanku yang pernah infeksi bisa
terluka kembali. Karena itulah, air putih kini menjadi pilihan setelah
bangun tidur.
Kebiasaan baru ini membuat istriku menjadi senang.
Sebelumnya ia selalu rewel dalam air putih, hampir setiap saat ia
mengingatkanku untuk minum air putih minimal 3 sampai 4 liter dalam
sehari. Namun tugasnya kini menjadi lebih berkurang.
Aku tegak air putih di dalam gelas dengan cepat, seketika
itu energi yang hilang mulai terasa memasuki tubuhku. Mata yang
sebelumnya masih terasa berat, sudah mulai terbuka. Aku bisa merasakan
korneaku mulai membesar.
Aku duduk di meja makan. Gelas kutaruh di meja berlapis
kaca. Di sebelahku ada mama yang menyaksikan salah satu program televisi
aku tidak begitu memperhatikannya.
"A' nanti pada mau pergi mancing bandeng, mau ikut gak?" tatapannya masih memandang ke arah televisi.
.
"mancingnya di mana ma?" tanyaku balik dengan suara yang masih agak lemas.
.
"mancingnya di mana ma?" tanyaku balik dengan suara yang masih agak lemas.
"biasa di Tanjung Pasir." sambil kepalanya memberi penunjuk arah
"enggak ah ma, Jul mau di rumah aja, males juga jauh." jawabku sambil pergi.
"oh yaudah nanti kamu jaga rumah aja ya sama Rini." pesan mama
Aku hanya menganggukan kepala tanda setuju.
Aku naik ke atas lalu duduk di sofa bewarna hijau yang berhadapan dengan televisi. Rini menghampiriku.
" kamu mau ikut mancing gak di Tanjung Pasir.? tanyaku pada Rini.
"Enggak ah, Aku mau beres-beres aja. Banyak cucian sama baju yang belum disetrika." jawabnya sambil mengelus-ngelus kepalaku.
"oke kalo gitu, jawabku," singkat.
Tatapanku lurus memandangi layar televisi. Sesekali aku
merubah chanel bahkan sering. Belum adanya program yang kusuka membuat
perpindahan dari satu stasiun tevelisi ke televisi lainnya berganti
dengan cepat. Rini yang kesal melihat ulahku lalu pergi.
"mau nonton apaan sih kamu, udah ah aku nyuci aj." dengan raut wajahnya cemberut.
Aku hanya tersenyum kecil.
Tiba-tiba suara lantang terdengar dari bawah. "Jul...
Rini... Mama pergi dulu, kalian kalau mau makan, masak apa yang ada ya."
pesan mama.
"Iya ma." jawabku disambut jawaban yang sama oleh Rini dari tempat cucian.
"ya udah mama pergi." balasanya
"iya ma." jawabku dan Rini berbarengan.
Mendengar jawaban Aku dan Rini, Mama menutup pintu rumah.
Hanya hitungan detik mobil keluar rumah diakhiri suara roda pagar yang
ditarik. Pasti pagar ditutup olehAdi pikirku.
Masih di tempat yang sama, posisi duduk aku rubah menjadi
posisi tidur. Rasa malas sangat terasa di hari minggu. Suara gaduh
terdengar di tempat cucian. Suara mesin cuci yang bergetar terdengar
nyaring. Namun aku tetap santai di atas sofa peninggalan Nyaiku.
Rini berjalan ke arahku membawa sapu. Wajahnya tidak
cemberut lagi. Ia hanya bilang "waktunya bersih-bersih. "mantab",
balasku padanya. Ia pun memulai dari bagian depan hingga ke belakang.
Hingga akhirnya ia pun hilang dari penglihatanku.
Rini kembali terlihat, kali ini membawa alat pel. Wajahnya
senyum ceria. Aku memberikan salut dengan dua jari jempol terangkat yang
kuarahkan padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar