Cerita Seorang Kakek

Pernah suatu kali aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah ada kehidupan di luar sana?. Kehidupan alien yang sering di putar oleh filem-filem Hollywood?.  Apakah ada kehidupan manusia di bawah laut?.  Apakah ada manusia sepertiku hidup di dalam gorong-gorong bawah tanah?.  Rasa penasaran ini sering hinggap dipikiranku.

Pulang dari kantor Aku singgah ke Taman Ayodya. Aku menyebutnya Taman Barito. Sama dengan Wilayah taman itu dibangun. Saat itu matahari sudah terlelap digantikan dengan rembulan. Aku duduk di bangku. Bentuknya seperti tribun dan menghadap ke danau buatan. Bagian tengahnya terdapat tiang yang diberi penerangan pada bagian puncaknya. Air mancur menyembur di bagian samping tiang. Terlihat cantik. Aku menyalakan rokok, tiba-tiba seorang kakek di sebelahku bertanya.

 “boleh pinjam koreknya dek”,  

“oh silahkan pak”. Jawabku sambil memberi korek

Kakek itu menyalakan rokok kreteknya. Secara bersamaan kata terima kasih tersembul keluar bersama asap dari mulutnya

Kulit kakek itu diselimuti keriput. Rambutnya penuh uban. Ia mengenakan kaos bewarna hitam, bercelana pendek dan memakai sandal jepit.

“Namanya siapa” tanya kakek itu.

“Saya Jul pak”

“oh” balasnya. “Angin di sini sejuk ya tidak seperti di tempat saya, agak pengap. Padahal sudah ada alat yang canggih, tapi tetap saja tidak sama dengan di sini. Adem banget. Andai saja orang-orang di tempatku tinggal mau pindah ke sini”.

“memangnya bapak tinggal di mana?” tanyaku.

 “Di bawah sini”. Kakek itu mengetukan kakinya ke tanah.

 “Kamu pasti tidak percaya”. Sepertinya dia sudah tahu pemikiraku.

“Kami hidup dengan tenang di bawah. Tidak ada perebutan kekuasaan. Semua di jaga dengan baik. Jika ada permasalahan, pemimpin kami menyelesaikannya dengan bijak. Perbedaan bagi kami hanyalah hal yang biasa tidak perlu dipermasalahkan tapi diselesaikan dengan solusi kebersamaan. “Bukan kah begitu Jul?”. Aku mengangguk.

“Sama seperti Negara kalian, tempat saya tinggal juga memilih pemimpin secara langsung. Tapi calon pemimpin kami harus menepati janji-janjinya saat dia berkampanye. Misalnya begini, jika calon pemimpin A berjanji akan mengatasi perekonomian, maka dia harus memberikan kepastian waktu kapan dia akan menyelesaikannya. Jika dia bilang bisa menyelesaikan perekonomian dengan pertumbuhan 6% dalam waktu 5 tahun atau selama dia menjabat, Si pemimpin A harus membuktikan. Jika tidak terbukti, beliau akan di penjara selama 5 tahun. Peraturan ini tidak hanya untuk pemimpin tertinggi saja tapi untuk pembantu pemimpin juga berlaku. Makanya di Negara kami , calon pemimpin selalu berkampanye dengan janji-janji yang realistis. Hukum berlaku untuk semuanya, tidak pilih-pilih seperti di negara kalian”.

Aku terpaku mendengar penjelasannya. Apakah mungkin ada kehidupan di bawah sana. Jika pun ada, pasti tidak akan seperti itu. Mungkin sudah gila kakek ini, ucapku dalam hati.

“Lalu bagaimana bapak bisa naik ke atas?” tanyaku

“Kamu lihat pohon besar di sebelah sana”

“iya”

“Saya keluar dari balik pohon itu melalui akar-akarnya yang tua”

“tidak mungkin” aku memotong jawabannya “jika bapak keluar dari sana, pasti orang-orang akan heran.”

“ya kamu betul Jul tapi ada yang perlu kamu ketahui. Teknologi kami lebih maju 20 tahun dari kalian. Para teknokrat, insinyur, penemu dan orang-orang ahli di negara kami sangat pintar.  Negara kami sangat mendukung dan mengapresiasi hasil kerja mereka. Apapun yang mereka kerjakan selalu kami dukung. Salah satu yang kami temukan adalah perisai pandang.

“apa itu”, tanyaku

“perisai ini digunakan untuk menangkis cahaya yang di tangkap oleh mata manusia, sehingga mata tidak akan mlihat apa yang ada di depannya.

“Wah keren, boleh saya lihat perisai pandangnya pak.”

“boleh”,kakek itu menunjukkan gelang yang melingkar di tangannya. Terbuat dari logam dan bersinar. Ada dua tombol.  Berwarna merah dan biru.

“hah”, Aku seakan tidak percaya. “itu perisai pandangnya pak”. Tanganku spontan memegang pergelangan tangannya”. Kakek itu hanya menangguk”

“hebat banget” lanjutku. “Tapi pak, tadi bapak bilang Negara bapak selalu mendukung temuan dari para ahli, bagaimana jika temuan itu merusak dan digunakan oleh orang yang salah”.

“bagus sekali pertanyaan kamu Jul. Seperti sudah saya bilang tadi, Negara kami sangat taat hukum. Walaupun begitu orang jahat selalu ada, termasuk di Negara kami. Jika itu terjadi, sistem dan tim intelijen kami bergerak sangat cepat dan menghabiskan orang-orang seperti itu. Pengikut ataupun orang-orang yang mendukung mereka akan dihilangkan ingatannya lalu dibuang dari Negara kami. Dibuang ke Negara atas. Begitulah Negara kami menyebut Negara kalian”. Pendidikan di Negara kami tidak hanya soal ilmu pengetahuan. Ketuhanan, moral dan demokrasi di tanamkan sejak mereka dalam kandungan. Pelajaran seperti itu menjadi pedoman dasar di Negara kami. Semua ibu hamil membaca buku panduan yang kami terbitkan. Semuanya terpapar di buku itu”.

Aku meresapi setiap perkataan yang keluar dari kakek itu. Sangat damai sekali Negara mereka. Ucapku dalam hati.

“Jul” lanjutnya “ Kamu tahu mengapa Aku ceritakan Negara kami kepada kamu”
“tidak pak, saya juga bingung”

“saya sudah memperhatikan kamu selama 3 tahun di sini. Hanya kamu yang membuang sampah pada tempatnya”. Padahal tong sampah jaraknya cukup jauh dari tempat kita duduk tapi kamu rela jalan kaki untuk membuang gelas plastik bekas kopi yang kamu minum. Satu lagi yang buat Saya salut, kamu kumpulkan batang rokok lalu membuangnya. Padahal masyarakat kalian terbiasa membuang sampah sembarangan”.

“ohh, soal itu saya sadar diri saja pak, kasihan Negara saya. Setidaknya saya membantu walaupun hanya sedikit.”

“tapi pak”, aku melanjutkan bertanya “kalau cuma membuang sampah pada tempatnya, banyak kok orang yang melakukan sseperti itu”

“benar kata kamu,”  nada kakek itu menekan. “ingat, kata saya tadi. Saya memperhatikan kamu jul. benar-benar memperhatikan. Kamu tahu kegunaan gelang yang saya pakai kan?”. Aku melihat gelang kakek itu sambil menangguk.

“Tanpa kamu sadari, saya suka duduk di sebelah kamu. Melihat apa yang kamu lakukan. Mempelajari cara kamu berpikir.  Memperhatikan kamu saat melihat keadaan sekitar dan perilaku orang-orangnya. Sering kamu tersenyum melihat mereka. Pernah saya lihat kamu tidak berpikir, tidak melakukan apa-apa. Hanya diam dengan tatapan kosong. Momen seperti itu biasa kamu lakukan selama 30 sampai 60 detik. Saat pertama kali melihatnya, saya bingung. Namun, akhirnya saya tahu. Kamu melakukan itu supaya otak tidak bekerja untuk sesaat. Saya melihatnya di tulisan yang kamu tulis di buku catatan. Kadang kamu menulis sembarang demi mendapatkan ide-ide untuk di jadikan bahan tulisan. Sering kali kamu juga menuangkan isi pemikiran kamu ke dalam buku. Ada juga pertanyaan mengenai kehidupan. Salah satunya tentang kehidupan di bawah tanah.

Urat di wajahku terasa mengeras. Aku seakan tidak percaya. Semua yang di katakan kakek itu sepenuhnya benar. Jempol dan jari tengahku saling bertemu. Memainkan kuku. Aku bingung dan gugup.
“Tenang Jul Kertayana. Jangan tegang”. Kakek itu memgang pundakku.

“iya pak”.

“Mungkin, dengan cerita saya tadi bisa menjawab beberapa pertanyaan yang ada di kepala kamu. Saya tidak akan melarang kamu untuk membagi cerita ini kepada siapa saja. Namun, siapa yang mau percaya dengan cerita saya ini, bukan begitu Jul?”

“iya pak, benar”, Aku menjawabnya sambil menangguk

“Saya harus pulang, sudah larut malam. Senang rasanya bisa berbagi dengan orang yang saya percaya. Apalagi orang dari dunia atas. Ini sangat langka. Sulit untuk saya lupakan. Terima kasih Jul, sudah mau mendengarkan.”

“oh iya, pak sama-sama.” Aku menjawab dengan spontan. “Seharusnya saya yang berterima kasih ke bapak. Sudah mau berbagi”. Kakek itu tersenyum tulus. Lalu berdiri bersiap untuk jalan. Namun sebelum kakek itu pergi, Aku menanyakan sesuatu padanya.

“Pak” kakek itu menoleh ke arahku. “Saya penasaran dengan perisai pandang yang bapak pakai”. Kakek itu mendengarkan. “Jika semua orang memakai gelang seperti yang bapak pakai, bukankah mereka bisa menikmati suasana sejuk di dunia atas?.


“Tidak bisa Jul,  hanya pemimpin tertinggi dan orang kepercayaannya saja yang memiliki gelang perisai pandang”. Jawabnya. Aku terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Kakek itu pergi ke arah pohon besar dan tua. Tangannya menekan salah satu tombol dari gelang yang melingkar di tangannya. Sesaat setelah itu kakek itu menghilang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar